Istilah generasi emas
menjadi ramai dibicarakan banyak tokoh dan pengamat pendidikan. Sebenarnya apa
arti generasi emas itu? Seperti apakah generasi emas? Bagaimana caranya
mempersiapkan generasi emas? Secara bahasa, generasi dapat
digunakan sebagai satuan ukuran waktu sehubungan dengan waktu-waktu yang telah
silam atau yang akan datang. Sedangkan emas adalah benda (unsur kimia)
yang memiliki nilai materi yang sangat tinggi dan sering digunakan sebagai
perhiasan yang mana semua orang menginginkannya. Dengan demikian generasi emas
merupakan konotasi atas harapan dimasa mendatang tentang hadirnya
generasi-generasi Indonesia yang genius dan unggul dalam segala bidang ilmu
pengetahuan dan teknologi untuk membangun NKRI menjadi bangsa yang besar, kuat,
dan berdaulat di mata dunia.
Konvensi Nasional
Pendidikan Nasional VII telah mendeklarasikan generasi emas 2045, yaitu manusia
yang berjiwa pancasila yang memiliki kecakapan global dan futuristik yang
mendasarkan penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi pada
nilai-nilai kultural dan nasionalisme, serta kemaslahatan bagi umat manusia.
Generasi emas yang
mampu menjahui narkoba akan mampu mencapai keunggulan, memiliki daya saing
dengan bangsa-bangsa lain, dan akan menjunjung tinggi harkat dan martabat
bangsa Indonesia menjadi bangsa dan Negara yang besar disegani dan dihormati
keberadaannya di tengah-tengah bangsa di dunia.
Berikutnya cara untuk
mempersiapkan generasi emas saya mencoba menawarkan konsep “ASEM”. Apa
yang dimaksud dengan “ASEM” ? Konsep ASEM singkatan dari Asertif,
Edukatif, Sopan santun dan Mandiri.
1.
Asertif
Asertif adalah sikap positif bukan sikap negatif,
asertif bukan agresif yang selalu merugikan orang lain bukan pula perilaku
pasif yang dapat merugikan diri sendiri. Dengan bersikap asertif, seorang
individu akan mampu mempertahankan kredibilitas dan eksistensi dari berbagai
pribadi yang berguna bagi lingkungannaya.
Asersif adalah suatu kemampuan untuk
mengkomunikasikan apa yang diinginkan, dirasakan, dan dipikirkan kepada orang
lain namun tetap menjaga dan menghargai hak-hak serta perasaan pihak lain.
Dalam bersikap asertif, seseorang dituntut untuk jujur terhadap dirinya dan
jujur pula dalam mengekspresikan perasaan, pendapat dan kebutuhan secara
proporsional, tanpa ada maksud untuk memanipulasi, memanfaatkan ataupun
merugikan pihak lainnya.
2.
Sopan
Santun
Sopan santun ialah suatu tingkah laku yang mencerminkan
sikap seseorang atau diri sendiri terhadap orang lain dengan tujuan menghormati
orang lain dalam bersikap. Dalam kehidupan sehari-hari sopan santun sangatlah
penting untuk dijunjung karena manusia sebagai makhluk yang berbudaya harus
menjunjung tinggi etika sopan santun baik di lingkungan keluarga, sekolah,
maupun masyarakat.
Pada era globalisasi banyaklah perubahan-perubahan
yang berpengaruh pada sikap sopan santun para pelajar yang semakin berkurang
Hal ini dipengaruhi oleh lingkungan dan individu itu sendiri. Misalnya sopan
santun yang buruk dipengaruhi oleh lingkungan yang buruk pula, atau individu
yang tidak pernah mau mengenal pentingnya kepribadian.
3.
Edukatif
Edukatif adalah suatu kondisi yang memberikan,
pengetahuan, pemahaman, dan pengajaran. Di dalam dunia pendidikan, unsur paling
penting adalah adalah guru (pendidik) dan murid (peserta didik). Mereka
memiliki ikatan hubungan yang disebut ikatan edukatif yaitu interaksi yang
dibuat dengan tujuan mengubah perilaku murid kearah yang lebih baik (pintar).
Pintar yang dimaksud adalah pintar dalam segi kognitif, psikomotor, dan
afektif.
Kemajuan suatu bangsa dan Negara dapat diukur
melalui pendidikan yang dimilikinya. Karena pendidikan akan menghasilkan
sumberdaya manusia terampil, dan memiliki kemampuan intelektual dan spiritual,
dan emosional yang tinggi. Untuk mempersiapkan generasi emas, sangatlah penting
bagi dunia pendidikan melakukan perubahan pola pikir bahwa pendidikan tidaklah
sekedar pemaknaan atas transformasi akademik (keilmuan) saja, melainkan perlu
dilengkapi dengan karakter.
4.
Mandiri
Kemandirian membentuk karakter yang kuat pada diri
seseorang menjadi tidak bergantung terlalu banyak pada orang lain. Mentalitas
kemandirian yang dimiliki para pelajar memungkinkannya untuk mengoptimalkan
daya pikirnya guna bekerja secara efektif. Jejaring sosial yang dimiliki
pribadi yang mandiri dimanfaatkan untuk menunjang pekerjaannya tetapi tidak
untuk mengalihkan tugasnya. Pribadi yang mandiri tidak akan menjalin hubungan
dengan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab demi mencapai keuntungan
sesaat.
Pelajar adalah generasi masa depan bangsa ini. Untuk
itu pelajar harus mandiri dengan menggali potensi yang dimilikinya. Pada
dasarnya setiap pelajar memiliki kekuatan dan potensi masing-masing. Tapi
sampai saat ini masih banyak yang belum menyadari potensi di dalam dirinya
sendiri. Padahal potensi setiap pelajar sangat menunjang kesuksesan hidupnya
jika di asah dengan baik.
0 Komentar